BERITA

Seminar Dan Diskusi Workshop Mengenai Metode TOSS



11 July 2019

 Inovasi Terbuka

Tradisi lama yang menganggap bahwa inovasi itu merupakan terobosan teknik dari seseorang individu genius harus ditinggalkan karena manfaat inovasi yang dihasilkan dari suatu tim akan lebih besar karena dihasilkan secara kumulatif dari para anggota tim yang memiliki kompetensi dan latar belakang yang  beragam.

         Pada inovasi tertutup, kita harus memiliki orang pandai sedangkan pada inovasi terbuka, kita harus pandai memanfaatkan orang-orang tersebut baik yang berada di dalam maupun di luar perusahaan kita.

         Selain itu kita juga tidak harus melakukan penemuan produk sendiri melainkan bisa memanfaatkan dan memilih hasil riset orang lain yang bernilai. Pemenang dalam konsep inovasi terbuka adalah mereka yang pandai memanfaatkan berbagai ide dari dalam dan luar organisasi, bukan yang pertama menemukan karya inovasi. Terkait dengan perguruan tinggi, Perusahaan dengan pendekatan inovasi terbuka memilih bermitra dengan perguruan tinggi untuk memperkaya pengetahuan di luar bidang yang dikuasainya.

Inisiatif Listrik Kerakyatan Sebagai Karya Inovasi Terbuka

Dalam mengembangkan iklim inovasi, STT PLN memilih untuk menerapkan konsep inovasi terbuka tanpa menutup kesempatan bagi setiap individu untuk melakukan inovasi sendiri. Hal ini sejalan dengan prinsip organisasi pembelajaran yang menyeimbangkan disiplin personal mastery dan team learning dalam kerangka berpikir secara sistim.

         Salah satu karya inovasi besar yang saat ini sedang terus diteliti dan dikembangkan adalah Inisiatif Listrik Kerakyatan sebagai bentuk kepedulian kepada masyarakat setempat untuk dapat menjadi pengembang listrik dengan menggunakan energi terbarukan di kampungnya sendiri. Listrik kerakyatan bukan merupakan karya inovasi berupa penemuan teknik baru yang hebat melainkan suatu karya inovasi terbuka berupa pemikiran untuk mengintegrasikan berbagai inovasi terkait yang telah dikembangkan oleh berbagai pihak di luar kampus STT PLN.

         Sekolah Tinggi Teknik PLN telah menjadikan Listrik Kerakyatan (LK) sebagai tema sentral penelitian dan pengabdian pada masyarakat. LK  sudah melalui tahapan kajian dan uji coba dalam skala kecil dan dapat dikembangkan lebih luas dan lebih mendalam dengan melibatkan berbagai disiplin ilmu terkait.

         Apabila penelitian dan uji-coba LK ini yang multi disiplin ini dilakukan secara simultan dan gotong-royong oleh sebanyak mungkin perguruan tinggi di Indonesia, maka Indonesia akan mampu untuk meningkatkan produktifitas penelitian yang dituliskan dalam berbagai artikel untuk journal ilmiah dalam waktu yang relatif singkat dari target yang ditentukan oleh pemerintah.

         Inisiatif LK merupakan inovasi gagasan dalam penerapan konsep tripple helix  yaitu suatu pendekatan yang mengutamakan keselarasan ABG (Academic-Business-Government ) dalam penerapan Tri Darma Perguruan Tinggi. STT-PLN memillih pendekatan tersebut untuk mengurangi kesenjangan antara kesiapan lulusan dalam bekerja dan kompetensi yang dibutuhkan dalam dunia industri dan pemerintahan, khususnya bidang energi dan ketenaga listrikan.

TOSS dalam Skema LK sebagai produk inovasi terbuka STT PLN

         Listrik Kerakyatan adalah model penyediaan dan pengembangan energi listrik yang terdiri dari bauran pembangkit listrik skala kecil dari energi bersih yang tersedia di sekitar komunitas  sehingga dapat dibangun sendiri secara bergotong-royong oleh berbagai kelompok masyarakat di tingkat kelurahan di seluruh tanah air.

         Gagasan Listrik Kerakyatan timbul oleh kenyataan bahwa pemerintah sudah dan akan membangun puluhan ribu MW pembangkit listrik raksasa, namun sampai saat ini kepemilikan dan para pelaku IPP (Independent Power Producer) masih didominasi oleh sekelompok investor raksasa sehingga keuntungan besar  yang mengalir dari konsumen listrik selama puluhan tahun hanya dinikmati oleh segelintir pemodal raksasa.

         Untuk menyeimbangkan ketimpangan tersebut, sudah saatnya masyarakat setempat mendapat kesempatan untuk memiliki sebagian porsi dari IPP tersebut melalui model kelistrikan skala kecil tapi tersebar yang disebut Listrik kerakyatan (LK).

Ketimpangan lainnya adalah eksploitasi energi fosil yang tidak terkendali sehingga bauran energi pembangkit tenaga listrik masih didominasi oleh energi fosil (minyak, gas, dan batubara) yang cadangannya semakin menipis sementara energi terbarukan seperti matahari, angin, dan biogas/sampah  yang tersedia gratis masih belum banyak dimanfaatkan.

Tempat Olah Sampah Setempat (TOSS)

Salah satu turunan dari program unggulan "Listrik Kerakyatan," STT PLN telah berhasil melahirkan suatu inovasi gagasan untuk memberdayakan masyarakat setempat untuk menjadi pemilik sekaligus pengelola pembangkit listrik skala kecil dengan memanfaatkan sampah domestik. Produk dari Gagasan ini disebut Tempat Olah Sampah Setempat (TOSS) yang telah melalui tahapan uji coba di kelurahan Pondok Kopi, Duri Kosambi, dan saat ini sedang diimplementasikan di Kabupaten Klungkung.

         Model TOSS melengkapi model Bank Sampah yang sudah berhasil dan banyak dipraktekkan oleh kalangan masyarakat peduli sampah, tetapi TOSS menawarkan kemudahan dan keunggulan.

         Berbeda dengan proses olah sampah pada umumnya, TOSS tidak memerlukan pemilahan awal dan TOSS lebih unggul daya manfaatnya karena produknya berupa bahan bakar briket atau pelet yang lebih mudah dijual atau dimanfaatkan sendiri dibandingkan produk lain seperti kerajinan barang bekas atau pupuk

"Demikian laporan ini disampaikan untuk dapat dipergunakan semestinya.